Namanya Teori Kadaluwarsa. Demikian saya menyebutnya. Expired-date Theory. “Date” di sini bisa diartikan tanggal, bisa juga kencan.
Teori ini mampu menunjukkan siapa jodoh Anda di masa
depan. Percaya ngga percaya, Anda boleh mencoba. Apapun hasilnya,
tanggung sendiri akibatnya.
Selengkapnya seperti ini.
Lanjut, gan! 😀
Kita tarik garis lurus di atas selembar kertas. Ambil
tiga titik sehingga membagi garis itu empat bagian sama besar. Garis
ini menggambarkan perjalanan hidup kita, sedangkan titik menunjukkan
titik balik usia kita.
Beri nama masing-masing titik itu mulai ujung paling
kiri: puber, matang, dan tua. Maka persis, akan terbagi empat masa:
pra-pubertas, pubertas, matang, dan tua.
Sudah?
Kalau sudah, coba pilih pada masa apa Anda sekarang.
Beri tanda pada garis ini. Sekarang lihat, Anda menuju ke masa usia yang
mana? Puber, matang, atau tua?
Sekarang tentukan kriteria masing-masing titik balik.
Kapan Anda disebut puber, kapan Anda disebut matang, dan kapan Anda
disebut tua. Boleh pakai penanda kejadian apapun, misal: disebut puber
kalau saya sudah mimpi basah, disebut matang kalau sudah punya
penghasilan, disebut tua kalau saya sudah naik jabatan lima kali, dan
seterusnya.
Ingat, tujuan kita adalah merumuskan teori tentang
jodoh, yang mana teori ini mampu menyebutkan siapakah jodoh Anda di masa
depan.
Ngga percaya?
Saya ceritakan apa yang saya amati dulu.
Saya berada pada masa di mana sekitar 50% teman-teman
saya seangkatan, baik sekampus maupun seSMA dulu, bahkan satu eSDe,
menikah. Seolah berbondong-bondong menyebarkan undangan, tiap akhir
pekan bisa dua sampai tiga kondangan dalam sehari.
Dan dari 50% itu, hanya sekitar 10-15%nya adalah
“jodoh-yang-sudah-kami-duga”. Artinya mereka pacaran semenjak lulus
eSDe, atau sudah mengenal semenjak awal eSMA, atau punya kedekatan
semenjak awal kuliah.
Sisanya, yakni lebih dari hampir seluruh populasi
teman yang menikah, dapat “jodoh-yang-ngga-pernah-kami-sangka”. Artinya,
ya gitu itu, kayak dalam satu jentikan jari, dia bisa kenal-dekat-fall in love-dan seketika menikah. Padahal tidak ada riwayat kedekatan apapun.
Kembali soal Teori Kadaluwarsa tadi. Masih ingat soal
titik balik? Tentunya, kalau menyebut kadaluwarsa, kita harus tentukan
dulu pada titik yang mana kita disebut kadaluwarsa.
Apa yang disebut kadaluwarsa? Adalah pada saat Anda
mulai gelisah, mulai cemas, dan mulai khawatir status “perawan tua” atau
“bujang lapuk” melekat pada diri Anda.
Dua titik yang paling besar kemungkinan terjadi
kadaluwarsa adalah pada titik “matang” dan “tua”. Sekali lagi, untuk
menetapkan titik ini, Anda boleh menggunakan kejadian apapun sebagai
patokan.
Kalau teman-teman saya sesama spesialis, ada yang
menggunakan masa-masa sekolah sebagai patokan. Ada yang menyebut dirinya
“matang” ketika sesampainya dia di akhir tahun sekolah. Ada juga yang
baru-baru ini menyesal, “Sudah masuk spesialis, tapi kok masih membujang
gini, ya.” Artinya dia menyebut dirinya “tua” ketika awal masuk sekolah
spesialis.
Apapun patokannya, itu terserah Anda. Hanya saja,
patokan yang paling gampang dan paling umum dipakai adalah soal umur.
Sekali lagi, semua terserah Anda.
Berhenti dulu sampai di sini. Silakan pilih titik kadaluwarsa Anda: apakah pada titik “matang” atau pada titik “tua”.
Sudah?
Di sinilah Teori Kadaluwarsa ini mulai bekerja.
Anda bisa saja bergonta-ganti pacar, gebetan, atau
selingkuhan, namun siapapun yang Anda temui di masa mendekati titik
kadaluwarsa, itulah jodoh Anda.
Anda boleh bersikap menunggu, sambil berharap kejutan
yang terbaik dari Tuhan. Yakni pada masa mendekati kadaluwarsa, Anda
bertemu seseorang yang dapat Anda percayai sebagai jodoh.
Sederhana, bukan?
Lalu, apa beda antara teman saya yang dapat
“jodoh-yang-sudah-kami-duga”, dengan teman saya yang dapat
“jodoh-yang-ngga-pernah-kami-sangka”?
Adalah pada sikap setianya.
Setia sama siapa?
Setia sama Tuhan. Karena dia yakin bahwa Tuhan pasti
memilihkan seseorang yang terbaik untuk dirinya. Tuhan tidak akan
menelantarkan dirinya, jikalau bukan dia sendiri yang menelantarkan
dirinya.
Yakni pada akhirnya nanti, Tuhan pasti menetapkan seseorang yang terbaik untuk dirinya.
Dalam masa-masa penantian sebelum titik kadaluwarsa, yang dia lakukan cuma satu: memantaskan diri untuk
menyambut sang belahan hati. Bahwa sebentar lagi dia akan bertemu
dengan sosok yang istimewa, yang telah Tuhan pilihkan untuknya.
Jikalau kamu termasuk seseorang yang mentapkan
pilihan sejak awal, maka sikap setiamu lah yang menentukan. Kamu
memilih, berarti siap menerima segala konsekuensinya. Kalau masih
berpikir bahwa pilihan itu masih dalam masa penjajakan, maka kamu belum serius. Cobalah rasakan, jikalau kau teruskan prosesnya, maka terbentuk lingkaran setan.
Berhentilah sampai di sini kalau memang kamu menganggap pilihan sekarang masih dalam tahap penjajakan. Karena sekali lagi kamu belum serius memilih.
Lalu, bagaimana bisa serius memilih? Bagaimana bisa tahu bahwa pilihan kita adalah pilihan yang tepat?
Yang perlu kita lakukan hanyalah makin mendekatkan titik kadaluwarsa. Pada akhirnya, kita menjadi termotivasi untuk semakin memantaskan diri mendapat jodoh terbaik. Hingga sampai pada titik kadaluwarsa tadi, maka kita benar-benar mendapat jodoh yang terbaik.
See? Sederhana seperti itu, bukan?
Inti dari Teori Kadaluwarsa ini adalah untuk membuat
kita makin termotivasi memantaskan diri menyambut jodoh yang telah
disiapkanNya, sambil berusaha mempertahankan sikap setia kepadaNya.
Kalau masih belum paham, baca berulang-ulang paragraf saya di atas. Lama-lama juga paham. 🙂
Ya sudah intinya seperti itu.
Bersikap setialah, maka di masa mendekati titik
kadaluwarsa nanti, kamu akan tahu siapa jodoh terbaik yang telah Tuhan
siapkan untukmu.
Wallahu ‘alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar